The reverent and worshipful fear of the Lord is the beginning and the principal and choice part of knowledge [its starting point and its essence]; but fools despise skillful and godly Wisdom, instruction, and discipline.

Sabtu lalu adalah hari milikku. Wess sombong banget… Ya enggak lah. Aku cuman mengutip slogannya LFM ITB kalo pas ada wisudaan, yaitu “Today is Yours”. Ya.. cuman berkata buat diri sendiri aja sich, “Today is Mine”.

Setelah sempet tertunda 4 bulan dan mencoba bangkit dari kegagalan, akhirnya bisa wisuda juga. Senangnya… Tapi bukan itu yang paling membuat hari itu serasa begitu menyenangkan. Hal yang paling indah adalah bisa berkumpul bersama keluarga untuk berbagi kebahagiaan. Akhirnya keinginan Bapak untuk maen ke Bandung kesampaian juga. Itu yang paling bikin plong.

Acara dapat berjalan dengan lancar dan sangat luar biasa. Ada berkat-berkat Tuhan yang datangnya tak terduga. bahkan lebih dari yang aku bisa bisa pikirkan dan bayangkan. Bisa sampai sejauh ini bukanlah atas usahaku sendiri. Kalau bukan karena rencana-Nya yang luar biasa, gak mungkin aku ada sebagaimana aku ada. Walaupun bukan jalan yang mudah, namun bukan berarti gak bisa dilalui. Sejak melangkahkan kaki ke kampus ini, bisa bertahan dalam perjuangan, bisa lulus, ada kesempatan untuk kuliah lagi, dan akhirnya selesai juga.

Gak ada yang dapat aku banggakan dari kampus ini selain bisa mengenal-Mu lebih dalam lagi. Bukan gelar ataupun status, tapi lebih daripada itu, bisa dibentuk seturut rencana-Mu adalah kebanggaanku. Mengalami pengalaman-pengalaman luar biasa bersama-Mu adalah saat-saat indah dalam hidupku. Gak ada hal lain yang bisa menggantikan itu semua. Setiap janji-Mu tidak ada yang kau ingkari. Engkau setia dan tidak pernah berubah; dahulu, sekarang, dan selamanya.

Kadang berpikir juga, napa ya harus tertunda segala. Kenapa gak lulus bulan Februari aja, kenapa gak gini, kenapa gak gitu? Inget iklan: “Tanya kenapa?” ya.. kalo gitu sih gak ada habisnya. kalo ditanya, aku juga gak ngerti. Tapi… belajar untuk percaya. Walaupun gak ngerti, tapi tetep percaya dan maju terus dalam iman. Cieee… Belajar untuk menjadi seorang “pelintas batas”. Batas ketidaktahuan, batas ketidakpercayaan, dan batas menunggu situasi yang nyaman. :)

Udahan ya share-nya. Makasih udah mau baca. Kalo gak setuju ama aku ya silahkan aja. Bebas-bebas aja kok. Otreh… Tetep semangat :D

Catatan: Sebenernya mau bagi-bagi cerita lewat foto. Tapi kemaren lupa bawa kabel data jadi fotonya masih kebawa ke Yogya. Ntar ya foto-fotonya :)

Related Posts: