WWF Smackdown di Indonesia

WWF Smackdown adalah sebuah tayangan gulat bebas yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Tayangan ini menjadi sorotan tajam lantaran telah memakan korban, bahkan ada yang sampai meninggal. Lho kok bisa? Para korban pada umumnya adalah anak-anak yang dengan asyiknya meniru adegan yang mereka lihat saat menyaksikan tayangan ini. Beberapa waktu yang lalu tayangan ini sudah mulai tayang jam 9 malam di mana anak-anak masih bebas untuk melihat televisi. Masih belum ngantuk kali ya. Namanya juga anak-anak, mereka suka meniru apa yang mereka lihat. Ntah baik atau buruk, yang penting tiru aja. Penulis juga pernah jadi anak-anak kok πŸ˜‰ Anak cak3p πŸ™‚

Sebenarnya ada apa sih dengan tayangan ini? Tayangan ini menyajikan sebuah tontonan “heroik” dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam acara show tersebut. Kalau mau lihat dengan serius ada alur cerita yang disajikan. Ada kubu yang jahat dan kubu yang baik. Mungkin yang baik yang menang atau kalah penulis juga kurang ngerti, soale penulis tidak mengikuti atau nonton secara serius.

Ada beberapa pihak yang bisa mengambil keuntungan dengan adanya acara ini. Penjual kaos, gambar-gambar, vcd yang laris manis dengan menjual barang yang terkait dengan acara ini. Waa emank selalu ada kesempatan dalam kesempitan Heheheh…

Nah setelah jatuhnya beberapa korban, maka tayangan ini dimundurin jam tayangnya menjadi lebih malem dengan harapan tidak dilihat lagi oleh anak-anak. Ada pula peringatan, text berjalan yang menunjukkan bahwa tayangan ini adalah untuk orang dewasa. Pihak televisi yang menyiarkan acara ini tidak mau menarik tayangan ini. Kata mereka sih karena adanya kontrak kerja. Waduh kalo ini gak tahu ya… Mungkin karena sudah dapet rating jadi sayang kalo diberhentiin πŸ˜‰ pisss…

Menurut penulis, sah-sah aja sih mau nanyangin acara apa di televisi. Lha wong stasiunnya juga punya-punya sendiri. Kalo nggak mau nonton ya sudah silakan pindah ke channel televisi lain. Hari gene masih ada larang ini larang itu. Jangan ganggu dunk, emang yang bayarin juga siapa? Itu mungkin pendapat pribadi pihak televisi. Tapi persisnya saya juga gak tahu πŸ˜€ Namun kalo secara etika ya pendapat itu kurang bijaksana. Kalau cuman mau ngejar rating tinggi yo wis tayangin film bokep aja sekalian. Rating dijamin tinggi. Hahaha… kayaknya terlalu berlebihan ya. Untungnya di Indonesia gak boleh πŸ˜€

Penulis yakin masih banyak tayangan lain yang bisa mendapatkan rating yang tinggi. Perlu “sedikit” kreativitas agar dapat membaca celah. Tayangan yang hanya mengejar rating tanpa adanya etika yang baik justru akan memperburuk cira televisi itu sendiri.

Bisnis yang beretika dengan baik akan memberikan nilai jual tersendiri bagi pelakunya. Percaya dech, pelaku bisnis gak perlu mengejar duit dengan susah-susah, tapi duit yang bakalan ngejar-ngejar. πŸ˜€

Kalau sudah muncul masalah seperti ini, maka mulailah saling tuding dan lempar tanggung jawab. Pihak satu menyudutkan pihak yang lain dan begitu juga sebaliknya. Mbok ya “budaya” kaya gini mulai diubah. Kalau mau cari yang salah ya semua salah, kalau siapa yang bener yang semuanya bener. Nah loch bingung khan?!

Perlu adanya kerjasama antara semua pihak, baik pihak televisi, orang tua, pemerintah, masyarakat, dan anak-anak itu sendiri. Kasihan juga sih anak-anak selalu jadi korban. Parahnya kok mereka mau ya. Ya gimana lagi namanya juga anak-anak. Dilarang malah tambah penasaran kalau dibiarin malah keterusan. Walaah piye to le…? πŸ˜‰

Beberapa ide saja:

  • Pihak televisi memundurkan acara ini lebih malem lagi atau lebih baik lagi dengan menghentikan penayangan acara ini πŸ˜‰
  • Pihak televisi meminta maaf dan memberikan ganti rugi kepada semua korban akibat tayangan ini. Tindakan seperti ini sangat jarang sekali dilakukan oleh orang Indonesia. Pada umumnya mereka suka mencari celah untuk lari dari tanggung jawab. Lha wong yang sudah terbukti dan jelas-jelas merugikan masyarakat saja malah seolah mau lari dari tanggung jawab (baca masalah yang di deket Surabaya -penulis πŸ˜‰ ). Coba lakukan langkah yang “tidak biasa” ini. Penulis yakin dampaknya akan sangat lain sekali. Trust me! πŸ˜€
  • Orang tua memberikan bimbingan bagi anak-anaknya sendiri. Ini saatnya lebih deket dengan mereka πŸ™‚
  • Pemerintah bisa mengeluarkan peraturan yang lebih “jelas” tentang program-program yang ditayangan oleh televisi.

NB: Tulisan ini pendapat pribadi penulis tanpa adanya unsur memojokkan atau mendiskriditkan pihak-pihak tertentu. Piss…

πŸ˜€ Tetep semangat!

  • dewi ls

    setuju buaanget,anak saya yg baru 5 th aja udah sok-sok jagoan ngikutin gaya gulat smackdown. emang bahaya…